Perempuan Merdeka Dalam Prespektfif Agama (Teologis)


Walau kaya tetapi tidak bebas, dan tetap tunduk tertindas serta apa yang menjadi segala pilihannya masih saja dibatasi oleh orang-orang yang di luar kaum. Pada tanggal 9 Maret 2020 ribuan perempuan di seluruh Mexiko mogok kerja dan sekolah pada Senin (9/3) sebagai bagian dari aksi “Sehari Tanpa Perempuan”. Mogok itu menyusul sebuah demo besar-besaran pada perayaan Hari Perempuan Internasional”. (Sumber: Voaindonesia.com). Perempuan Israel membuat peti dan masuk dalam peti, artinya jangan jadikan seorang perempuan sebagai mayat hidup.
Ketika kita membangun sebuah prespektif dari apa yang terjadi seperti yang telah ada diatas, maka ini adalah bagian dari bagaimana sikap perlakuan kita sebagai sesama ciptaan Tuhan yang begitu luar biasa kita mendapatkan sebuah kelebihan yang cukup besar adanya, seperti halnya kita memiliki nalar pikir yang luas dan besar sehingga dari situlah kita memiliki sebuah penggerak yang pada esensinya mampu membuat arah langkah dan tindakan kita yang lebih baik dan tidak saling mencemoh, menjatuhkan, bahkan sampai pada saling bunuh-membunuh sekalipun. Karena ini adalah bagian dari pada tindakan atau kegiatan yang sudah melanggar aturan agama kita dan sangatlah tidak manusiawi. Maka itu perempuan merdeka tidak akan diam dengan perlakuan yang tidak wajar ini dengan membentuk Kelompok Perempuan Untuk Melawan “Women’s Group To Fight”.
Kejadian 1:27 Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambarnya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakannya mereka. Dari hal ini kita dapat berspekulasi bahwasannya kita sebagai umat ciptaan yang menurut gambar dan rupa Allah senantiasa mempunyai sikap dan tindakan yang sama dengan pencipta sendiri yaitu Allah. Dalam cara betindak sesuai dengan cara yang Allah ajarkan yaitu tindakan kasih yang besar. Laki-laki dan perempuan diciptakan atas keinginan satu pribadi yakni Tuhan, sehingga tidak seorang pun yang melawan kehendak yang Maha Sempurna yaitu Allah.
Dalam kitab perjanjian Lama, suami atau laki-laki sebagai seorang bapak bagi anggota keluarganya, ia juga adalah baal (tuan atau penguasa atas mereka). Tetapi walaupun seperti itu, kaum perempuan tidak dipandang rendah atau diperlakukan tidak baik. Misalnya, di dalam Kitab Ulangan 31:12, mereka dianggap bagian yang intergral dari umat perjanjian itu perjanjian itu sehingga laki-laki, perempuan, dan anak-anak berkumpul untuk bersama-sama mendengar pembacaan Taurat dan mengambil bagian dalam ibadah dan kebolehan-kebolehan istri yang baik diberikan pujian, seperti yang tertulis di dalam Amsal 31:30.
Laki-laki diciptakan dari debu tanah dan waktu Tuhan menciptakan perempuan Ia mengambil tulang dan daging dari laki-laki. Sehingga nyatalah di katakan oleh Adam bahwa inilah dia daging dari dagingku dan tulang dari tulangku. Tuhan memberikan kepada mereka untuk menjaga dan memelihara serta merawat taman Eden serta beranak cuculah dan penuhilah dunia ini, perempuan diciptakan untuk menolong laki-laki, perempuan media suport untul lelaki, suatu saat perempuan jadi oposit atau oposisi ketika laki-laki tidak memperlihatkan sesuatu yang benar. Di mata Kristus tidak ada perbedaan antara laki-laki dan perempuan.
Perempuan merdeka adalah dia yang tidak di pimpin oleh keinginan daging, tetapi keinginan yang di pimpin oleh roh, perempuan harus tunduk dalam artiannya harus memberikan dukungan kepada laki-laki atau seorang istri harus memberikan suport kepada suaminya karena dia sebagai kepala sebab kepala adalah sumber. Perempuan harus memiliki roh yang lemah lembut, tidak hanya suka pakaian yang di idolakan atau perhiasan saja, dalam konteks ini perempuan tidak serta-merta hanya terpaku pada hal materi semata.
Sikap batin yang lemah lembut, jadi perempuan yang bijaksana atau cakap dalam bertutur kata dan bertindak. Kecantikan adalah sia-sia dan istri yang rajin akan di puji-puji, kalau mau tidak ada kekerasan rumah tangga. Maka berbuat baiklah seorang istri kepada suami. Seperti halnya ratu Ester sangat bijaksana untuk membantu suami dalam membawa kehidupan kerajaan.

Perempuan Merdeka Dalam Prespektif Akademisi (Sosiologis)
Perempuan merdeka itu adalah perempuan yang bebas dapat menentukan pilihan mereka tanpa beban moral.
Dalam aspek sosiologi patriarki adalah peta komoditi yang di mana membuat komoditi-komoditi yang baru, meta komoditi untuk menjual komoditi-komoditi yang lain dalam artiannya ialah bagaimana sekelompok orang yang bekerja sama secara tidak rasional melakukan tindakan atau perilaku yang menyimpang dari norma yang berlaku.
Tubuh perempuan meta komoditi untuk dijual serta menjual untuk mendapatkan modal, perempuan sepanjang zaman meta komoditi. Hal ini terlihat bahwa pandangan dan perilaku sosial sangatlah menggairahkan pada sosok perempuan yang menjadi bahan materil yang menghasilkan. Namun tentunya perbuatan yang demikian melawan nilai-nilai moral oleh karena pelanggaran yang serius dibuat, ini menjadi hal serius yang terlihat pada permukaan sosial sebabnya bukan saja merusak seorang perempuan pada fisiknya saja tetapi juga pada mental seorang perempuan karena akan timbul pada benak mereka bahwa mereka tidak dapat mempertahankan sesuatu yang berharga pada tubuh dan kehidupan pribadi sendiri.
Hal yang terjadi demikian diatas di awali dengan cara berpikir yang sempit maka dapat mempersempit kemerdekaan pribadi, dan nalar yang sehat harus dipakai agar kita benar merdeka berpikir dan berbicara, dilain sisi budaya diam yang terus menerus dilakukan sehingga tidak ada semacam gorong-gorong yang mengeluarkan suara dan terdengar oleh lingkungan masyarakat sekitar. Kebiasaan diam diri adalah orang yang melegitimasi sebuah kekerasan kecil yang nantinya menjalar menjadi kian besar yang membahayakan kehidupan, hal ini menjadi cacatan penting untuk progres kehidupan kita pada dataran selanjutnya.
Sebagai perempuan yang merdeka seharusnya dan tetap mampu menampilkan pada publik bahwa tidak saja seorang lelaki atau kelompoknya yang mendominasi segala ruang publik. Namun sebagai perempuan pun sangat mampu melakukan apa yang bisa dilakuan oleh laki-laki dan sanggup mengerjakan tentang apa yang tidak bisa dilakukan oleh seorang lelaki, tetapi juga jangan angku sebab kita memilki cara atau perilaku kita berbeda dalam menyikapi setiap waktu dan kesemptan yang dibarengi dengan kemampuan berpikir dan keterampilan bertindak.
Perempuan yang merdeka ialah perempuan yang berpikir terbuka tidak takut tetapi bebas “membaca buku” guna menambah ilmu pengetahuan dan pengalaman sebagai bekal dan perjalanan kehidupan yang panjang dimuka bumi ini. Buku menjadi bahtera kehidupan yang membawa kita untuk dapat berpetualangan pada kehidupan yang begitu tetapi ia akan menuntun kita sampai pada yang tepat dalam menentukan pilihan dan mempertanggung jawabkan, menjawab atau menerankan kepada orang yang hendak meminta pertanggung jawab terhadap kita.
Di kala kita dalam ruang intelektul (organisasi) jangan hanya festivalisasi organisasi. Tapi jadi organisatoris atau ada nilai-nilai sehingga jangan jadi pekerja organisasi semata, hal ini menjadi acuan yang mendasar apabila kita masuk sebuah wadah dan bertindak dengan segala baik agar supaya melatih kita untuk benar-benar mengetahui jati diri kita semua lebihnya sbegai perempuan merdeka.
“Perempuan adalah kelainanyang alami atas ketidak sempurnaan dari laki-laki” (Aristoteles). Pernyataan ini mengisyaratkan bahwa lelaki tidak harys menganggap dirinya lebih hebat dari perempuan dan perempuan juga tidak lebih sempurna dari laki-laki tetapi dengan segala yang dimilki oleh kedua insan adalah saling membutuhkan dan melengkapi dan setara, tidak ada kelas atau pun gerbong sekte nilai lebih pada satu insan saja melainkan semua akan saling utuh ketika saling menyatuh.


“Dalam perjalanan panjang untuk mencapai Kemerdekaan Indonesia, tidak terlepas dari peran penting perempuan-perempuan Indonesia, yang berjuang mempersembahkan jiwa dan raganya, baik di garis depan maupun garis belakang pertempuran” (Menteri Bintang, Webinar Maju dan Merdeka). Ini artinya perempuan adalah laboratorium sekaligus penggerak kemerdekaan yang terus berpartisipasi aktif dalam dinamika bangsa Indonesia terus bergulir. Dirgahayu Bangsaku ke-76 Tahun Indonesia Tangguh-Indonesia Tumbuh.

MHN-MALUT/Reki Tomangoko

Print Friendly, PDF & Email

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *