Malam Puncak Perayaan Dies Natalis GMNI 72 Tahun, GMNI Medan Angkat Topik Menggugat Nasionalisme Indonesia dalam Tausyiah Kebangsaan

Dalam momentum Malam Puncak Perayaan Dies Natalis GMNI ke-72 tahun, Dewan Pimpinan Cabang Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (DPC GMNI) Medan menegaskan sikap politik ideologisnya melalui penyelenggaraan Tausyiah Kebangsaan dengan tema “Menggugat Nasionalisme Indonesia di Tengah Hegemoni Kapitalisme Global.”

Kegiatan ini dilaksanakan di Sekretariat DPC GMNI Medan dengan konsep lesehan yang membumi, egaliter, dan sarat makna perlawanan. Kegiatan ini tidak hanya menjadi peringatan sejarah berdirinya GMNI, akan tetapi sebagai ruang konsolidasi ideologis untuk membangun kesadaran kritis terhadap krisis nasionalisme di tengah penetrasi kapitalisme global yang kian sistemik dan eksploitatif. Nasionalisme Indonesia, dalam konteks ini, diposisikan bukan sebagi retorika pengetahuan saja, melainkan sebagai alat perjuangan untuk membebaskan rakyat dari belenggu ketergantungan dan ketidakadilan struktural.

Hadir dalam kegiatan tersebut mewakili Wali Kota Medan, jajaran alumni GMNI, elemen masyarakat, serta organisasi Cipayung Plus Kota Medan. Kehadiran berbagai unsur ini mempertegas bahwa perjuangan nasionalisme tidak dapat berjalan secara sektoral, namun membutuhkan sinergi lintas elemen dalam menghadapi tantangan global yang semakin kompleks.

Dalam sambutannya, Ketua DPC GMNI Medan Julpadli Simamora menegaskan bahwa nasionalisme hari ini sedang berada dalam titik uji sejarah. Dominasi dan hegemoni kapitalisme global telah menggerus kedaulatan bangsa, meminggirkan kaum marhaen, serta mereduksi peran negara dalam menjamin keadilan sosial.

“Nasionalisme Indonesia saat ini sedang di uji bung dan Sarinah, Nasionalisme Indonesia tidak boleh tunduk pada logika pasar. Nasionalisme Indonesia harus menjadi alat perjuangan yang berpihak kepada rakyat, melawan penindasan, dan menegakkan kedaulatan di segala bidang kehidupan,” tegasnya dengan lantang.

Tausyiah Kebangsaan yang menghadirkan narasumber dari kalangan legislatif dan praktisi menjadi ruang strategis dalam membaca realitas kebangsaan hati ini. Diskursus yang berkembang menyoroti bagaimana imperialisme modern bekerja melalui instrumen ekonomi-politik global, serta pentingnya membangun sintesis antara nilai-nilai religius dan Marhaenisme sebagai fondasi perjuangan kebangsaan yang autentik.

Tidak hanya berhenti pada forum intelektual, rangkaian kegiatan Dies Natalis ke-72 GMNI Medan juga menghadirkan ekspresi kultural sebagai medium perjuangan. Musikalisasi puisi yang dibawakan oleh kader-kader GMNI Medan menjadi artikulasi kegelisahan sekaligus perlawanan terhadap ketimpangan sosial yang terjadi. Kata-kata yang dilantunkan tidak hanya estetika, akan tetapi manifestasi kesadaran ideologis yang hidup di tengah realitas rakyat. Kegiatan semakin menguat dengan penampilan band Filsafatian yang menghadirkan nuansa kritik sosial melalui musik, mempertegas bahwa perjuangan tidak hanya berlangsung di momentum diskusi aja, tetapi juga melalui medium seni sebagai alat propaganda dan penyadaran massa.

Dengan konsep lesehan yang membumi, kegiatan ini berhasil menciptakan ruang interaksi yang cair, tanpa sekat, dan penuh semangat kolektivitas. Hal ini mencerminkan watak GMNI sebagai organisasi kader ideologis yang tidak hanya berpikir, tetapi juga bergerak bersama rakyat. Melalui momentum Dies Natalis GMNI ke-72 ini, DPC GMNI Medan menegaskan komitmennya untuk terus berada di garis depan perjuangan nasional, menjaga marwah nasionalisme Indonesia dari kooptasi kapitalisme global, serta memastikan bahwa cita-cita kemerdekaan benar-benar terwujud dalam keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Penulis
S. Silalahi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *